Sunday, 13 August 2017

BAD THINGS

Semua orang akan selalu mengingat pertemuan pertama sebagai kesan yang indah dan tak terlupakan. Lantas, aku hanya bisa mengingat kesan pertama kita sebagai ‘bad things’ yang sepertinya tidak pernah terlupakan. Sebagai orang baru yang pertama kalinya mengenal dunia magang, pasti aku masih gugup menghadapi orang-orang baru. Salah satunya, kamu.
            Berniat untuk bertemu dengan bagian manajemen perusahaan, tapi aku harus bertemu denganmu. Kamu seperti tidak memiliki sikap ramah terhadap orang baru. Dengan ekspresi datar dan tanpa senyum ramah tamah, kamu memintaku untuk menjalani beberapa tes awal sebelum magang. Setelah selesai, kamu memintaku untuk pulang begitu saja. Disaat itu, aku pulang dengan raut wajah kesal. Seperti itukah sikapmu pada orang yang baru kau temui? Aku bersumpah untuk membalaskan kekesalanku padamu saat aku magang nanti.
            Aku terpaksa harus menjalani masa magang berbulan-bulan lamanya, dan bertemu denganmu setiap harinya. Masih dengan wajah flat dan tanpa senyum. Sesungguhnya aku tidak pernah ingin meminta bantuanmu, tapi karena kamu adalah senior satu divisi denganku. Dengan terpaksa aku harus selalu bekerja sama denganmu. Menyebalkan.
            Suatu waktu, Manajer pernah menugaskan kami berdua untuk pergi rapat bersama klien. Awalnya aku malas untuk duduk seharian bersamamu. Tapi selama rapat, aku menemukan ada sesuatu yang berbeda. Kamu seperti tidak se-dingin yang kukira. Kamu masih bisa tertawa lepas dan melakukan hal-hal lucu. Aku masih bertanya-tanya, meski sedikit ada rasa nyaman saat itu. Sepulangnya rapat pun, kamu seperti sudah membuang semua sikap dingin itu, beberapa kali mengajakku tertawa dan melontarkan lelucon konyol yang membuatku menyembunyikan bahagiaku.
Eh? Apa aku bahagia? Haha lucu memang. Orang yang awalnya membuatku kesal di pertemuan pertama kini seperti menjadi sumber tawamu. Kamu itu unik, menyebalkan tapi bisa membuatku tersenyum kecil.
            Berbulan-bulan bekerja sama denganmu membuatku melupakan semua rencana balas dendamku. Aku seperti mengenalmu dari sisi yang berbeda, dari sisi yang tidak pernah kau tunjukkan pada dunia luar. Aku seperti mengagumimu dalam hati. Kamu seperti memiliki cara berbeda untuk memperlakukanku. Kamu membuatku belajar banyak hal. Kamu menyadarkanku bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk memperlakukan seseorang. Kamu membuat pandanganku berubah, bahwa tak selamanya kesan pertama itu indah.

            Terimakasih telah membuat kesan pertama yang tak indah, tapi memiliki perjalanan yang menyenangkan. Bad things not always about bad  things too.

Saturday, 8 October 2016

COMEBACK

Assalamualaikum readers..
maaf yaa authornya vakum lama sangat. Alhamdulillah berhasil menyelesaikan pendidikan di kesehatan tepat waktu, buat yang belum tau kisah awalnya bisa cross check ke post di 3 tahun yang lalu.. (;
oya mohon maaf sekali karena nggak bisa melanjutkan tulisan tentang novel Cinta Tak Berujungnya.. maaf yaa..
Saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas kunjungannya di blog saya. Bahkan ada yang berkenan hati untuk menyadurnya dalam sebuah buku, terimakasih banyak.
Saya ikut bahagia jika tulisan saya bisa memberi banyak manfaat terhadap banyak orang..
tanpa kalian, tulisan saya bukan apa-apa. syukran jazakallah katsira...

Monday, 22 September 2014

Novela 'Tak Berujung' BAB 3 Part 2



Hujan mengguyur kota Bekasi sejak matahari belum terbit. Akibatnya hawa dingin pun menyerang seluruh tubuhku. Dingin yang menyergap pada pagi hari ini mengharuskanku mengenakan jaket di dalam kelas. Di luar, dahan dan daun-daun terkena basah karena hujan. Di dalam kelas, aku dan hatiku terselimuti oleh jaket. Satu persatu siswa berdatangan, dan lantai pun menjadi sangat kotor. Salah satunya Virin. Ketika dia tiba di kelas, dia langsung sibuk dengan tas dan bajunya yang sedikit basah.
            “Bukunya basah nggak, Rin?” tanyaku.
            “Bukunya sih enggak. Tapi gue risih sama rok gue yang basah.”
            Tiba-tiba Ifa dan Adri datang secara bersamaan.
            “Eh, persentasi kita nanti gimana?” tanya Ifa.
            “Gue juga bingung nih, Fa. Kayaknya kita akan persentasi berempat aja deh.”
            “Kalau begitu, nama Dhena dicoret dari daftar kelompok kita,” kata Virin.
            “Semoga aja Dhe masuk hari ini,” ucap Adri berharap.
            Bunyi bel dua kali telah ku dengar. Seluruh siswa sudah memasuki kelas. Sebelum memulai pelajaran, siswa muslim diperintahkan membaca Al-Qur’an. Sejak pertama kali aku masuk sekolah ini, memang kegiatan inilah yang menjadi ciri khas sekolah ini. Tepat pukul tujuh pagi, setelah bel berbunyi, sebuah speaker yang ada di atas ujung tiap kelas memperdengarkan suara bapak atau ibu guru yang sedang membaca Al-Qur’an, dan siswa tinggal mengikuti atau menyimak saja.
            Seusai membaca Al-Qur’an, Pak Handi memasuki kelas dengan langkah yang mantap. Kehadiran Pak Handi sesungguhnya yang ku nanti, tapi jika mengingat anggota kelompokku yang tak lengkap, aku jadi berharap Pak Handi melupakan tugas tentang persentasi.
            “Anak-anak, Bapak minta kelompok satu maju terlebih dahulu untuk persentasi.”
            Beruntungnya kelompokku bukanlah kelompok pertama tetapi kelompok kedua. Meski bukan kelompok pertama, tapi jantungku masih deg-degan menunggu giliran persentasi. Ketika KBM sudah berjalan beberapa menit, tiba-tiba Dhena hadir dan muncul di ambang pintu kelas. Dia mengucap salam dan menyalimi Pak Handi kemudian duduk di bangkunya. Kehadirannya membuat seisi kelas terdiam dan menaruh pandangan padanya. Tak terkecuali aku. Aku dibuat heran sekaligus takjub dengan kehadiran Dhe kali ini. Ada yang berbeda dari penampilannya. Dhe terlihat lebih anggun dari yang sebelumnya. Seorang Dhena mengenakan jilbab. Rupanya Allah telah membukakan pintu hidayah baginya. Aku dan teman lainnya menyambut bahagia perubahan pada diri Dhe. Semoga dia bisa istiqomah, batinku.
            Tapi masih tersimpan tanda tanya besar di benakku. Aku masih ingin bertanya padanya tentang banyak hal. Tentang absennya, tentang perubahannya dan tentang segalanya. Disaat sebagian anak menertawakan perubahan Dhe, aku tidak. Aku rasa memang tidak ada yang lucu dari suatu perubahan yang dilakukan seseorang. Dan perubahan baik seseorang itu tidak layak ditertawakan, bukankah alangkah lebih baik jika kita mendukungnya? Dan ikut bahagia menyambut perubahan ke arah yang lebih baik itu.


end


   Seusai pelajaran bahasa Indonesia, bel tanda istirahat dimulai pun berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Mereka berebut mendapat giliran pertama kali jajan. Ini seringkali terjadi di tempat yang bernama sekolah. Wajar memang, tapi alhasil, di kelasku ini hanya menyisakan aku, Adri, Virin, Ifa dan tentunya Dhe yang sudah masuk kembali. Entah mengapa aku bisa melihat dan merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam diri seorang Dhena. Bukan hanya penampilan fisik yang berubah, tapi aku pun bisa merasa penampilan hatinya pun sedang berbeda. Tiap kali aku melihat wajah Dhe, aku selalu mengerutkan keningku. Aku masih diliputi rasa penasaran.
            Setelah Adri selesai mencatat, aku menyenggol lengan Adri dan memberikannya kode. Untungnya Adri cepat tanggap akan kode yang aku berikan. Disaat Ifa dan Virin masih tenang menulis catatan. Aku mencoba membuka percakapan dengan sebuah tanya.
            “Dhe, kenapa kemarin nggak masuk?” tanyaku pelan.
            Dhe memutar tubuhnya hingga aku dan Adri berhadapan dengannya. Terlihat wajah yang penuh duka terlukis disana.
            “Ada apa, Dhe?” tanya Adri kemudian.
            “Gue lagi ada masalah, Len, Dri.”
            “Masalah apa? Kenapa nggak cerita?”
            Dhe mengubah posisi duduknya. Rupanya gerak-gerik Dhena, serta pertanyaan beruntun dariku dan Adri telah mampu membuat Virin dan Ifa berhenti menulis. Ifa yang duduk di bangku belakang, menyeret bangkunya dan duduk di sebelahku, di samping Dhena juga. Sementara Virin yang sebangku dengan Dhe, tidak perlu bersusah payah, ia hanya tinggal memutar tubuhnya yang kurus agar bisa berhadapan dengan kita semua.
            “Sebenarnya ada yang gue sembunyikan dari kalian,” ucapannya terpotong dengan tarikan nafas panjang yang dilakukannya. “Gue baru aja putus sama Galang. Dan itu yang membuat gue nggak mau masuk.”
            Aku, Adri, Ifa dan Virin secara serentak melukiskan wajah kaget bercampur penasaran. Aku mengatur jalur pernapasanku, aku benar-benar terkejut dengan pernyataan yang diakui Dhe. Tak dinyana, perasaanku selama ini benar dan tak meleset.
            “Hah?! Kapan kalian jadian?” tanya Ifa penasaran.
            “Udah lumayan lama, dan beberapa hari yang lalu Galang mutusin gue.”
            “Jangan-jangan yang dibicarain mereka waktu itu tentang Dhena,” tebak Virin.
            “Mereka siapa maksud lo? Dan mereka ngomong gimana?”
            “Iya, jadi beberapa hari yang lalu Galang sama teman-temannya ngomong soal orang yang mau bunuh diri karena putus sama pacarnya,” ujar Ifa menjelaskan.
            Aku melihat mata Dhe yang memperlihatkan tanda tekejut.
            “Dan yang dimaksud mereka itu bukan lo kan, Dhe?” tanyaku hati-hati.
            Semua mata tertuju padanya, semuanya ingin tahu jawaban Dhe dari pertanyaanku. Dan betapa terkejutnya kami ketika Dhe menganggukan kepalanya, dan itu artinya jika yang aku perkirakan itu salah. Aku melihat mata Dhe yang hampir basah. Aku benar-benar iba melihatnya, tak pernah sebelumnya aku menemukan orang secinta ini pada kekasihnya. Tapi di sisi lain, aku tak bisa membenarkan sikapnya yang ingin bunuh diri hanya karena cinta.
            “Ya Allah, Dhe… Masalah kayak begini kenapa nggak lo ceritain ke kita? Apa lo udah bisa ngukur diri sendiri kalau lo mampu melewati segala masalah sendiri tanpa bantuan manusia?” tanyaku tegas.
            “Iya, gue minta maaf yaa.. Tapi gue bingung harus gimana lagi sekarang. Nama gue udah tercemar gara-gara status gue di facebook. Dan gue udah terlanjur nanggung malu.”
            “Lo nulis di status Fb[1]? Pastilah banyak orang yang lihat dan akhirnya tahu.”
            “Iya sih, Fa. Terus gue harus gimana sekarang?” tanya Dhe.
            “Memperbaiki keadaan itu nggak mudah. Lo harus sabar dan ini akan makan waktu lama.” Akhirnya Adri angkat bicara setelah sejak tadi bergelut dalam diamnya.
            “Dan yang terpenting adalah jangan ulangi kesalahan yang sama. Biarkan mereka membicarakan kejelekan lo, tapi jangan balas dengan hal yang sama,” ujarku menambahkan.
            “Tapi gue masih penasaran, kenapa lo bisa diputusin?” tanya Virin.
            “Sebenarnya gue udah putus dua kali. Tapi yang kedua ini yang buat gue jadi sedih banget. Ini karena kesalah pahaman antara gue dan dia.”
            “Salah paham kenapa?” tanya Ifa.
            “Karena gue sering pulang bareng sama Kak Afin. Dan Galang nggak suka itu.”
            “Kalau begitu, masalah ini karena kesalahan lo. Wajarlah dia marah lihat lo jalan bareng orang lain,” kata Virin.
            “Iya, tapi itu semata-mata gue lakuin karena rumah gue sama Kak Afin dekat dan searah.”
            “Tapi dalam hal ini, lo tetap yang salah. Karena nggak seharusnya lo pulang-pergi bareng dia, dan gue yakin tanpa bareng dia pun lo bisa pulang sendiri. Belajarlah untuk menjaga perasaan orang lain!”
            Dhe mengangguk patuh terhadap kata-kataku. Aku tersenyum bangga melihat sebuah perubahan dalam dirinya. Tak aku pungkiri, mungkin jika aku jadi dirinya dan dalam posisi seperti itu, aku pun tidak akan sanggup melewatinya seorang diri. Jangankah untuk sebuah hubungan pacaran, dalam hubungan pertemanan yang sesungguhnya menyimpan sebuah rasa terpendam saja tentunya sudah menyakitkan. Apalagi rasa itu sulit bahkan tak mungkin terbalas. Aku bisa merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan Dhe. Dan aku tak ingin seperti dia yang tersakiti karena cintaku yang terlalu dalam kepada seseorang. Hal ini membuatku mengingat sesuatu yang seharusnya kulupa.
            “Oh iya, gimana sama persiapan lomba Paskibra kita?”
            Pertanyaan Dhe yang terbilang mendadak membuat jantungku hampir copot. Dan Dhe melihat keterkejutanku karena ulahnya.
            “Kok sampai kaget begitu? Lagi melamun, ya? Melamunkan siapa sih?”
            Keningku berkerut, “apaan sih, Dhe?” Aku memutar bola mataku.
            “Kayaknya kita bakal lebih sering latihan Paskibra deh..”
            Suara itu datang bukan dari suara kami berlima. Ada suara lain datang secara sengaja dan kalimat itu tentunya ditujukan untukku dan Adri juga Dhe selaku anggota Paskibra.
            “Faiq? Lo ngomong apa tadi?” tanya Dhe antusias.
            Jujur saja, aku tidak ada niat untuk berbicara padanya. Aku tidak mudah akrab dengan orang yang baru ku kenal, apalagi dia laki-laki. Meskipun kita terangkum dalam satu organisasi yang sama, tapi tak menjadi halangan bagiku untuk tidak akrab padanya. Aku membuang muka ketika Dhena mulai mengobrol dengan Faiq. Tak terkecuali Adri yang berada di sebelahnya, dia pun mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Tapi aku sempat bingung dengan sikap Adri yang demikian ketus pada Faiq, karena aku tak mengetahui alasan pasti Adri tak menyukai Faiq.
            Setelah cukup lama Faiq dan Dhe berbincang-bincang dari mulai tentang Paskib hingga ke perubahan Dhe yang terlihat mendadak. Aku memang mendengar mereka bercakap-cakap, tapi aku tidak pernah memasukkannya ke otak, hanya masuk telinga kanan dan keluar kembali dari telinga kiri. Tiba-tiba Adri mencolekku, dia memberikan kode padaku dan setelah aku mengerti aku dan Adri beranjak pergi meninggalkan kelas. Ya, hanya aku dan Adri yang terlihat kurang menyukai kehadiran Faiq. Samar-samar aku mendengar suara Faiq yang mengira aku tak suka padanya. Tapi aku acuhkan itu semua. Aku dan Adri berjalan menuju kantin.
            “Dri, kenapa lo kelihatan nggak suka sama Faiq?”
            “Emang gue nggak suka sama dia kok.”
            “Bukan itu maksud gue.” Aku memajukan bibirku tapi Adri justru tertawa kecil.
            “Iya, gue ngerti kok. Gue nggak suka sama sikapnya yang suka genit sama anak cewek, dan cara ngomongnya yang sok romantis gitu.”
            “Ah, masak sih?” tanya ku tak percaya.
            “Iya, Len. Gue suka dengar dia kalau ngomong sama Alin pakai kata ‘sayang’ atau ‘beb’. Gayanya kelihatan sok akrab gitu sama anak cewek,” ujarnya dengan nada ketus.
            “Mungkin aja mereka berdua pacaran.”
            “Enggak, mereka sama sekali nggak terikat hubungan apapun. Emang Faiqnya aja yang sok akrab.” Adri memalingkan mukanya, aku hanya mampu tertawa kecil.
            “Lo itu kesel sama dia atau jealous?” tanyaku meledek Adri.
            “Hah?! Gue suka sama Faiq? Nggak, nggak mungkinlah, dan gue nggak mau.”
            “Hati-hati loh, benci itu jaraknya tipis banget sama cinta.”
            Aku mempercepat langkah kakiku mendahului Adri yang samar-samar ku dengar memanggil-manggil namaku karena kesal sudah aku ledek. Aku tak mengerti mengapa aku yang mengucapkan kata-kata itu untuk Adri tapi justru kata-kata itu selalu terngiang jelas di telingaku tanpa pernah beranjak sedikitpun. Aku rasa aku memang tidak membenci Faiq, hanya tidak suka jika harus dekat dengannya. Dan aku berusaha agar tak terlalu larut dalam ketidaksukaanku karena aku tak ingin terkena karma akibat ulah bucaraku sendiri. Tak sulit memang untuk menyukai seseorang, tapi aku pun tak ingin terlalu menutup diri. Hanya saja untuk Faiq, aku belum ingin terlalu akrab dengannya. Mungkin belum saatnya, batinku berbicara.


end


“Aku ingin melupakan kamu, tapi kini dia mulai hadir”


[1]  Singkatan dari Facebook; biasa disebut oleh anak-anak remaja.

Novela 'Tak Berujung' BAB 3 Part 1



Sudah hampir lebih dari sebulan aku tak lagi berkomunikasi dengan Riko. Bertatap muka pun jarang karena kelas kita yang berbeda. Riko pun sudah tak lagi mengirimiku pesan ataupun meneleponku. Itu semua tak aku sesali, karena aku justru senang jika dia sudah mulai menjauh dariku sehingga aku bisa kembali fokus pada yang lain dan tak lagi memikirkan perasaanku yang dulu pernah ada untuknya. Memang sejujur-jujurnya aku akui, bahwa aku belum bisa benar-benar membuang perasaanku padanya. Tapi setidaknya, dengan menjauhnya dia dariku sudah mengurangi sedikit demi sedikit perasaan yang berkecimpung di hatiku. Jika dengan menyanginya aku bisa merasakan yang namanya sakit hati, maka aku tidak akan mau lagi menyayanginya. Aku merasa sudah cukup sampai disini aku merasakan sakit hati karenanya. Dia bukan cowok sempurna, tapi aku bisa melihat kesempurnaan lain yang dia miliki, hingga aku terjatuh ke dalam hatinya dan yang sekarang aku rasakan adalah perih yang menyakitkan.
            Kini aku bisa menikmati hidup seperti semula sebelum mengenal Riko. Aku bahagia dengan adanya teman-teman yang selalu ada untukku. Dan mereka semua bisa mengerti keadaanku. Aku bahagia bermain dan menghabiskan waktu bersama mereka, meskipun aku tak memiliki seorang kekasih. Apapun keburukan sifat seorang teman, bagiku tak penting untuk dipermasalahkan. Yang terpenting adalah, mereka bisa mengisi hari-hariku yang hampa. Di tengah lamunanku, aku melihat dari jendela sosok guru akan memasuki kelasku. Tapi ada sesuatu yang hilang ketika aku melihat ke bangku depan yang kosong tak terisi. Pandanganku beralih pada Adri di sampingku yang sedang membolak-balikan halaman buku.
            “Dri, kemana Dhena ?”
            Adri mengangkat kepalanya dan melihat ke arah bangku Dhe yang kosong, beberapa detik kemudian, wajahnya sudah menatapku.
            “Nggak tahu, mungkin dia nggak masuk.”
            Adri kembali mengalihkan pandangannya ke halaman buku, sementara aku hanya mengangguk kecil. Sejujurnya aku mencurigai sesuatu terhadap absennya Dhena. Karena aku ingin menghormati guruku, maka aku harus melupakan sejenak kecurigaanku. Aku membuka lembaran kertas buku tulis kemudian menulis apa yang ditulis guruku di papan tulis dan menyimak pelajaran dengan tenang.
            Di tengah-tengah pelajaran, ketika aku sedang menulis catatan, entah mengapa tiba-tiba pandanganku tertuju ke arah luar jendela dan aku melihat Riko sedang bersama Rafa. Dengan gerak cepat, aku langsung mengalihkan pandanganku ke papan tulis. Secepat apapun aku berusaha menoleh, tetap saja aku sudah terlanjur melihat Riko. aku memejamkan mataku sejenak untuk menghilangkah bayangan Riko dari mataku. Ternyata sikapku itu diperhatikan oleh Adri dan membuatnya tertawa kecil.
            “Kenapa ketawa, Dri?”
            “Nggak apa-apa, lucu aja. Nggak perlu menghindar kayak begitu kali, Len. Jalani aja, kalau memang lo harus berpapasan dan bertatap muka sama dia, kenapa harus dihindari?”
            “Kan gue udah pernah bilang sama lo kalau gue―”
            Adri memotong ucapanku, “iyaaa, gue tahu kok. Tapi nggak perlu sampai segitunya juga. Lo cukup bersikap biasa aja, tanpa harus menghindarinya secara berlebihan.”
            Aku tersenyum dan mengangguk kecil, “iya, iya.., tumben bijak banget kata-katanya.”
            “Iya dong.”Aku dan Adri pun tertawa.


end


   Jam istirahat sudah datang, tapi itu tidak berpengaruh sama sekali padaku, karena akupun sedang tidak ingin pergi ke kantin. Aku berdiam diri di kelas. Adri, Ifa dan Virin sudah keluar kelas sejak tadi. Sudah lima menit lebih berlalu, tapi mereka tak kunjung datang. Aku sudah bosan berkali-kali mondar-mandir masuk dan keluar twitter. Musik pun senantiasa berganti dengan lagu berikutnya, hingga telingaku bosan mendengarnya.
            “Lena, sendirian aja.”
            Aku mendengar suara itu dari arah depan. Aku mengangkat kepalaku dan terlihat Juwi sedang berdiri di ambang pintu kelas. Aku hanya memberikan senyuman padanya, kemudian Juwi berlalu pergi bersama temannya. Aku menundukkan kepala dan mencoba menghayati lagu yang terputar. Tak lama kemudian aku merasa ada orang yang duduk di sampingku, rupanya Adri, Ifa dan Virin sudah kembali. Aku mengangkat kepalaku dan ku temukan Ifa dan Virin sudah duduk di hadapanku.
            “Kalau dengar lagu itu jangan dihayati. Nanti bisa mewek lho,” ledek Virin.
            “Kalian kemana aja sih? Lama banget, yang nunggu sampai jamuran.”
            “Emangnya siapa yang nunggu?” tanya Ifa tak sadar.
            “Lenalah orangnya,” sahut Adri. Ifa membentuk huruf O pada bibirnya tanda mengerti.
            “Ngapain nunggu kita, Len?”
            “Ada yang mau gue tanyain sama lo, Rin.”
            “Apa?”
            “Tentang absennya Dhena. Kenapa dia ngak masuk?”
            Sejenak Virin berhenti mengunyah makanan, “gue nggak tahu. Semalam gue sms nggak dibalas.”
            “Iya, gue telepon juga nggak di angkat. Kenapa sih dia?” tanya Ifa.
            “Nggak biasanya dia kayak gini.” Adri menambahkan.
            Tiba-tiba saja kelas menjadi ramai karena kehadiran Alin, Hilda, Ranis dan Galang. Mereka datang dengan membawa tawa yang menggembirakan. Hal itu membuat aku, Adri, Ifa dan Virin mengalihkan pandangan pada mereka.
            “Lang, lo mau ikut pergi ke surga, nggak?” tanya Alin.
            “Jangan mau, Lang.” Tiba-tiba Hilda menyahut diiringi tawa keras.
            “Aduh, kok gue jadi kasihan, ya..” ujar Alin.
            “Kalau gitu, nanti kalau gue pacaran dan kemudian putus, gue juga mau ah pergi ke surga,” ledek Hilda.
            Aku semakin tak mengerti akan apa yang mereka bicarakan. Pembicaraan mereka tak jelas bagiku. Terlebih sejak tadi aku melihat Galang dan Ranis hanya ikut menertawakan tanpa ikut bicara. Semua anak yang berada di dalam kelas pun bingung terhadap arah pembicaraan mereka. Tidak terkecuali Juwi.
            “Eh, ada apaan sih? Kok nggak ngajak gue, jadi ceritanya udah lupa nih sama gue?” keluh Tisa sambil menghampiri Hilda dan Alin yang masih tertawa.
            “Bukannya Galang udah cerita ya sama lo?” tanya Hilda heran.
            “Iya, semalam kan gue udah cerita panjang lebar gitu, masak langsung dilupain.”
            “Oooh, yang semalam itu? Hahahaha..” Tisa ikut tertawa.
            Tiba-tiba Juwi menghampiriku dan bertanya, “mereka ngomongin apa sih?”
            “Tanya aja langsung sama orangnya,” jawab Adri.
            Juwi mengalihkan pandangan pada mereka yang masih tertawa, “kalian pada ngomongin apa sih?” Alin, Hilda dan Tisa sejenak berhenti tertawa, “ada yang mau ke surga gara-gara putus sama pacarnya.”
            Mendengar jawaban Tisa, dahiku semakin mengernyit. Aku, Adri, Ifa dan Virin benar-benar tak mengerti apa dan siapa yang mereka bicarakan. Tapi entah mengapa, tiba-tiba terbesit di benakku bahwa yang dibicarakan mereka adalah anak satu kelas.
            “Maksud lo ada yang mau bunuh diri?” Juwi tak percaya.
            Anggukan yang diberikan Alin sudah cukup membuat Juwi mengerti dan bergegas pergi. Dan anggukan itulah yang membuatku sedikit terkejut. Bukan hanya sekedar terkejut, tapi juga heran. Tiba-tiba Virin berbisik.
            “Apa Alin nggak salah ngomong tuh?”
            Aku menggeleng dan Adri mengangkat bahu. Rupanya bukan hanya aku saja yang dilanda rasa penasaran, tapi juga Virin.
            “Udah nggak usah dipikirin, itu kan nggak ada hubungannya sama kita,” ujar Ifa.
            Tidak. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Bukannya aku ingin mencampuri urusan mereka. Tapi entah mengapa hatiku seperti memberi keyakinan padaku, bahwa yang dibicarakan mereka itu ada hubungannya denganku atau teman-temanku. Ingin sekali rasanya aku mengetahui siapa orangnya, tapi rasa penasaran itu aku pendam karena sepertinya akan percuma.

end


   “Len, tugas persentasi Bahasa Indonesia kita gimana?” tanya Ifa.
            Aku hanya mampu terdiam. Aku pun bingung bagaimana nasib persentasi pada kelompokku, karena ini adalah hari ketiga Dhena tidak masuk sekolah. Aku mencurigai telah terjadi sesuatu pada dirinya. Mungkin aku bisa saja mendatangi rumahnya, tapi aku ingin menunggunya masuk sekolah dan aku akan membiarkan dia menceritakan semuanya jika dia ingin. Suasana kelas sedang sepi karena sebagian besar yang lain berada di luar kelas.
            “Lang, gimana sama nasib dia?” Tiba-tiba Tisa masuk dan berbicara dengam keras.
            “Masih ada tiket menuju surga, nggak? Gue mau ikut nih,” ledek Hilda.
            Alin pun menghampiri mereka, “ya ampun, udah dong main ledekannya. Kasihan tahu!”
            “Tapi lucu, Lin. Dan aneh pula, iya nggak?” Tisa mengubah pandangannya padaku.
            Aku hanya tersenyum.
            “Lucu nggak, Fa, kalau ada orang sakit hati habis putus terus mau bunuh diri?”
            Ifa menyahut, “bukan lucu, tapi aneh.”
            Sedetik kemudian, tawa pun pecah dari Tisa, Ifa dan Virin yang mendengarnya. Karena tawa yang dimiliki Ifa itu sangatlah lucu, maka akupun ikut hanyut dalam tawa mereka. Adri pun demikian. Dia yang biasanya bisa menahan tawanya, kini ikut bergabung tertawa bersamaku dan yang lainnya. Bahkan hingga bel masuk berbunyi, aku masih saja tidak dapat menghentikan tawaku. Akhirnya aku menjadi bagian dari mereka yang sejak kemarin menertawai seseorang yang tak ku ketahui namanya.


end